Iklan

Jumat, 22 November 2013

Surat dari Seorang Kristiani untuk Muslimah

 Berikut ini saya menshare sebuah tulisan yang ana temukan di tumpukan file-file group Ikatan Pelajar Persis. 

Setelah saya baca, Subhananlloh isinya sangatlah menakjubkan.
Muslimah, silakan dibaca, Insya Allah bermanfaat dan menggugah hati ukhti-ukhti sekalian... 

Surat dari Seorang Kristiani untuk Muslimah..

Selama serangan Israel ke Lebanon dan “perang melawan teror” Zionis, dunia Islam menjadi pusat perhatian di setiap rumah warga Amerika. Saya melihat pembunuhan, kematian dan kehancuran yang menimpa Lebanon, tapi saya juga melihat sesuatu yang lain: Saya melihat Anda. Saya tidak bisa menolong, tapi yang menjadi perhatian bahwa setiap perempuan yang saya lihat selalu menggendong bayi atau anak-anak disekelilingnya. Meskipun mereka berpakaian sederhana, kecantikan mereka tetap bersinar. Tapi bukan sekedar kecantikan lahiriah. Saya juga merasakan keanehan dalam diri saya: saya merasa iri. Saya merasa tidak senang atas kejadian mengerikan dan kejahatan perang yang rakyat Lebanon derita dan menjadi target oleh musuh kita bersama. Tapi saya hanya bisa mengagumi kekuatan, kecantikan, kesederhanaan, dan lebih dari itu, kebahagiaan kalian.

Ya, ini aneh, tapi itu yang saya rasakan bahwa meskipun dalam keadaan dibom, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari pada kami, karena kalian menjalani kehidupan natural sebagai seorang wanita. Cara yang selalu wanita jalani sejak masa awal. Cara yang digunakan di Barat hingga tahun 60-an, ketika kami dibombardir oleh musuh yang sama. Hanya saja kami tidak dibom dengan perlengkapan perang sesungguhnya, tapi dengan tipu daya licik dan kerusakan moral.

MelaluiGodaan


Mereka menyerang kami—orang-orang Amerika—dari Hollywood, bukan dari jet tempur atau tank buatan Amerika. Mereka juga akan “membom” kalian dengan cara ini, setelah mereka selesai membom prasarana negara kalian. Saya tidak ingin hal ini terjadi pada kalian. Kalian akan merasa rendah sebagaimana yang kami rasakan. Kalian bisa menghindar dari bom semacam ini kalau kalian mendengar dengan ramah kepada mereka yang sudah menderita dan menjadi korban serius dari pengaruh jahat musuh. Karena segala sesuatu yang kalian lihat dari Hollywood hanyalah kumpulan kebohongan, penyimpangan realita, rokok dan bayangan semu. Mereka menghadirkan masalah seks sebagai “hiburan yang aman” karena tujuan mereka adalah menghancurkan susunan moral masyarakat menjadi apa yang mereka arahkan ke program beracun. Saya meminta kepada kalian agar tidak meminum racun mereka. Tidak ada penangkal baginya sekali Anda mengkonsumsinya. Kalian mungkin bisa pulih setengah-setengah, tapi tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Lebih baik menghindar dari racun sepenuhnya dari pada mencoba untuk sembuh dari penyebab kerusakan ini.

Mereka akan berusaha menggoda kalian dengan rangsangan film dan video musik; dengan licik menggambarkan kami, wanita Amerika, dengan bahagia dan senang, bangga berpakaian layaknya pelacur dan konten tanpa kekeluargaan. Banyak dari kami tidak bahagia, percayalah. Jutaan dari kami menjalani pengobatan anti-depresi, tidak menyukai pekerjaan, dan menangis semalaman karena lelaki yang mengatakan cinta kepada kami, kemudian dengan serakah menggunakan kami lalu pergi. Mereka ingin menghancurkan keluarga kalian dan meyakinkan kalian untuk punya sedikit anak. Mereka melakukan ini dengan menghadirkan pernikahan sebagai sebuah bentuk perbudakan, (tugas) keibuan sebagai kutukan, menjadi sederhana dan murni sebagai model kuno. Mereka ingin merendahkan kalian dan menghilangkan agama kalian. Mereka seperti ular yang menggoda Hawa dengan apel. Don’t bite!

Harga Diri

Saya melihat kalian sebagai mutiara berharga, emas murni, atau “mutiara bernilai tinggi” yang dibicarakan Injil (Matius 13: 45). Semua wanita adalah mutiara bernilai tinggi, tapi beberapa orang memperdaya kita ke dalam keraguan akan nilai kemurnian ini. Yesus (Nabi Isa as.) mengatakan: “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” (Matius 7: 6) Mutiara-mutiara kita tak ternilai harganya, tapi musuh meyakinkan kita bahwa hal itu bernilai rendah. Tapi percayalah; tidak ada pengganti yang dapat memandang ke dalam cermin dan melihat kesucian, kemurnian dan rasa harga diri yang ada pada kalian.

Mode atau fashion yang datang dari para penjahit Barat dirancang agar kalian yakin bahwa asset tak ternilai milik kalian adalah seksualitas. Tapi keindahan busana dan hijab kalian sesungguhnya lebih menarik dibandingkan mode Barat manapun, karena pakaian itu menyelubungi kalian dalam misteri dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan. Seksualitas seorang wanita harus dijaga dari mata-mata yang tak layak, karena hal itu seharusnya menjadi hadiah bagi lelaki yang benar-benar mencintai dan menghormati untuk menikahi Anda…

Aset tak ternilai milik kalian adalah inner-beauty, kemurnian, dan segala hal yang membuat kalian apa adanya. Tapi saya melihat beberapa wanita Muslim mendorong batasan itu dan mencoba menjadi kebarat-baratan sebisa mungkin, meskipun tetap menggunakan kerudung (dengan memperlihatkan sebagian rambut mereka). Mengapa meniru wanita yang sudah menyesal, atau akan menyesal, karena kehilangan kebaikannya? Tidak ada pengganti atas kehilangan hal tersebut. Kalian adalah permata yang sempurna. Jangan biarkan mereka menipu kalian dengan menjadi berlian palsu. Karena segala hal yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah kebohongan. Itu adalah jebakan setan. It is fool’s gold.

Hati Seorang Wanita

Saya akan beri tahu kalian sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian ingin tahu: seks sebelum menikah tidaklah “sehebat” yang kalian kira. Kita memberikan tubuh kita kepada lelaki yang kita cintai, yakin bahwa itu adalah cara agar mereka mencintai dan menikahi kita. Sebagaimana yang kita lihat di televisi belakangan ini. Tapi tanpa jaminan pernikahan dan kepastian pengetahuan bahwa ia akan bersama dengan kita, ini bukanlah hal yang menyenangkan! Inilah ironinya. Ini adalah hal yang sia-sia. Hanya akan meninggalkan air mata pada kalian.


Berbicara sebagai seorang wanita kepada wanita lain; saya percaya bahwa kalian sudah mengerti. Karena hanya seorang wanita yang benar-benar mengerti apa yang ada di hati wanita lain. Kita benar-benar sama. Ras kita, keyakinan, atau kebangsaan kita bukanlah persoalan. Hati seorang wanita sama di mana pun mereka berada. We love. Itu hal terbaik yang kita lakukan. Kita memelihara keluarga kita dan memberikan kenyamanan dan kekuatan kepada lelaki yang kita cintai.

Tapi kami wanita Amerika telah dibodohi untuk percaya bahwa kita lebih bahagia dengan berkarier, rumah sendiri untuk hidup sendiri, dan kebebasan memberikan cinta kepada siapapun yang kami pilih. Itu bukanlah kebebasan, dan itu bukanlah cinta. Jangan menerima sesuatu yang penuh kekurangan. Itu tidaklah berharga. Kalian tidak akan menyukainya dan bahkan setelah itu kalian tidak akan menyukai diri kalian sendiri. Lalu dia akan pergi meninggalkan kalian.

Pengorbanan

Sin never pays. It always cheats you. Meskipun saya memperoleh kembali kehormatan, tetap saja tidak ada gantinya… Kami wanita di Barat telah didoktrin ke dalam pemikiran bahwa kalian, wanita Muslim, tertindas. Tapi sejatinya, kamilah yang sedang tertindas; diperbudak oleh mode yang merendahkan kami, terobsesi dengan berat badan, mengharap cinta dari pria yang tidak menginginkan kami bangkit. Jauh dalam diri, kami tahu bahwa kami telah ditipu. Kami dengan diam-diam mengagumi dan iri pada kalian, meski sebagian dari kami tidak akan mengakui hal ini.

Please, jangan remehkan kami atau berpikir bahwa kami menyukai hal-hal seperti ini. Ini semua bukan kesalahan kami. Banyak dari kami tidak memiliki ayah yang menjaga kami sewaktu kami muda karena keluarga kami telah berantakan. Kalian tahu siapa dibalik semua rencana ini. Don’t be fooled, my sisters. Jangan biarkan mereka merampas kalian. Stay innocent and pure. Kami wanita Kristiani butuh untuk melihat bagaimana hidup selayaknya seorang wanita. Kami butuh kalian untuk menyiapkan sebuah teladan bagi kami, karena kami telah kehilangan kesempatan. Jagalah kemurnian kalian. Remember: you can’t put the toothpaste back in the tube. Jadi, jagalah “pasta gigi” kalian dengan baik!

Saya harap kalian menerima pesan ini dalam semangat persahabatan, rasa hormat, dan kebanggaan. Dari saudari Kristiani kalian—with love.

Oleh: Joanna Francis © 2006 (Penulis, Jurnalis USA)

Kamis, 21 November 2013

Bolehkah Muslimah Upload Foto ke Jejaring Sosial?

Bismillahirrahmanirrahiem...

Pada tulisan kali ini penulis akan menshare hasil sidang dari satu kumpulan halaqah santri dari sebuah pesantren yang berasal dari Kota Tasikmalaya. Kelompok ini dinamakan Dewan Hisbah Santri Benda, yang memiliki program rutin setiap minggunya untuk membahas permasalahan yang memerlukan suatu kesimpulan keputusan hukum. Tentu saja dengan mengacu kepada keterangan-keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Selain bertujuan untuk dapat memecahkan keputusan hukum atas suatu masalah, juga kelompok ini bertujuan untuk dapat melatih kecerdasan santri dalam berargumen, sehingga terciptalah generasi yang kritis, generasi ulama masa depan.

Baiklah langsung saja sekarang mari kita perhatikan dengan seksama hasil sidang dari permasalahan yang disebut di judul postingan ini. 
BOLEHKAH MUSLIMAH UPLOAD FOTO KE JEJARING SOSIAL?

Alhamdulillah pada hari rabu, 6 november 2013 telah dilangsungkan dewan hisbah santri benda.
Salahsatu tema yang kami bahas adalah, Bagaimana hukumnya muslimah mengupload foto ke facebook?

setelah para anggota cukup sengit beradu argumen, akhirnya pada pukul 21.30 didapat kesimpulan sebagai berikut:
Hukum muslimah mengupload foto ke facebook Boleh. Akan tetapi ada hal-hal yang mesti diperhatikan ketika muslimah hendak memutuskan untuk mengupload foto. di antaranya:
1. untuk tidak memperlihatkan auratnya.
2. untuk tidak mengandung unsur yang menimbulkan syahwat.
3. untuk menjaga sifat pemalu/sombongnya.


keterangan-keterangan:
1. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.... (QS. An-Nur: 31)
2. Beliau bersabda: "Wahai Asma`, sesungguhnya seorang wanita jika telah baligh tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini -beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya-. (HRAbu Daud dari Aisyah)
3. "Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nur:24)
4. Imam Ali berkata “Terdapat tiga sifat terpuji jika dimiliki oleh perempuan, dan buruk jika dimiliki oleh laki-laki; sombong (Kecut, tidak ramah), penakut dan bakhil (kikir). Apabila seorang perempuan sombong maka ia tidak akan mengizinkan laki-laki asing (non muhrim) memasuki kehidupannya, apabila ia bakhil maka ia dapat menjaga hartanya dan harta suaminya, dan apabila ia penakut maka ia akan selalu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang membahayakannya” ('Uqudu Lujain hal: 8)

Demikian ringkasan sidang DHSB tersebut. Insya Allah pada postingan selanjutnya akan diuraikan keterangan demi keterangan atas hasil sidang tersebut.

الله يأخذ بأيدنا إلى ما فيه خير لللإسلام و المسلمين

Senin, 18 November 2013

MENUTUP AURAT SESUAI SYARI'AH

Di bawah ini adalah model berpakaian muslimah yang benar beserta dalil keterangannya.


DAPUR YANG DITINGGALKAN

Di bawah tanda tanya saya menulis catatan ini. Jawabannya saya harapkan dari para pembaca sekalian yang, kalau mungkin, dapatlah menghapus tanda tanya tersebut.

Bukanlah suatu sinisme, bila di sini saya mengasosiasikan dapur dengan persoalan kaum wanita. Saya hanya mencoba membuat catatan tentang segala sesuatu mengenai wanita yang pada saat sekaran di beberapa golongan pendidik dan agama dalam masyarakat kita menjadi bahan perbincangan.

Pada mulanya saya pun merasa geli untuk menulisnya. Tetapi kemudian ternyata hati saya menyadari bahwa meskipun saya seorang pria, bukankah saya ini seorang putra dari seorang ibu, wanita yang termulia di atas bumi ini, yang mesti ditatati dan dihormati tanpa memperhitungkan kedudukan serta kecakapannya> Dari ibu saya yang buta huruf tetapi  bijaksana saya belajar bagaimana mesti berbuat dan mempergunakan hak serta melakukan kewajiban saya sebagai warga negara suatu bangsa, demikian kata Ghandhiji, seorang pemimpin India terbesar yang menyatakan hormat serta khidmat terhadap ibunya.

Jadi, tulisan ini tidaklah saya maksudkan untuk suatu niat yang sinis. Tidak.

Baiklah, coba pembaca bayangkan akibat emansipasi wanita umumnya pada akhir-akhir ini jika kita bertitik tolak bahwa pada abad-abad yang lalu wanita tidak memiliki hak yang sama. Ambillah segi-segi baiknya, tentu! Banyak? Ya. Mari kita lihat catatan Dra.M.G.Schenk dan Ny.Sundari Munar dalam bukunya, Meneropong Gerakan Wanita di Dunia. Catatan tersebut menceritakan hak-hak wanita yang sangat luas di Rusia yang meliputi lapangannya sendiri, meliputi juga lapangna pria. Nyonya Molotov di Rusia, demikian catatannya tersebut, setelah melihat persamaan hak sudah diperoleh kaum wanita Rusia, ia melihat ada sesuatu yang dibuang oleh wanita, yaitu kewajiban terhadap rumah tangga. Maka ia mendesak Stalin untuk mendirikan pabrik kosmetik selain pabrik baja yang dikerjakan oleh wanita. Hal ini, katanya, disebabkan karena wanita mesti menjaga kemanisannya di dalam rumah tangga. Tetapi, walau usaha Nyonya Molotov ini sudah berhasil, Vera, seorang ibu yang tinggal di luar kota Moskow, masih mengeluh juga, sebab waktu bersolek hanya dimiliki oleh Nyonya Molotov dan nyonya-nyonya pemimpin lainnya.Tetapi baginya kesempatan itu tidak ada, apalagi setelah suaminya mendapat kecelakaan di tempat pekerjaannya sehingga ia hanya mengharapkan kelangsungan hidupnya dari gajinya saja yang belum tentu mencukupi. Kemudian ia diberi anjuran oleh tetangganya agar menggunakan seluruh harinya untuk mencari nafkah, sedangkan pemeliharaan anaknya diserahkan kepada Penitipan Bayi dan Anak-anak. Ibu Vera tidak mengerti anjuran tetanggnya itu, sebab ia adalah seorang ibu yang mest mendidika anak-anaknya. Bila hal itu dilepaskan, bagaimanakah jadinya denga pendidikan anak-anaknya tersebut? Ia tidak mengerti walau hak dan kewajiban wanita dengan pria teah sama, sebab sebagai seorang ibu ia merasa lebih bertanggung jawab mengenai rumah tangganya daripada mengenai hal lainnya.

Demikianlah sebagian dari catatan tersebut. Yang jelas dalam catatan itu kita melihat adanya tanggung jawab moral atau keberatan seorang wanita untuk meninggalkan kwajiban rumah tangganya yang tak berupah. Keadaan tersebut tidak mustahil terjaddi di negeri kita mesti kita tak mengharapkannya. Apalagi dalam tekanan ekonomi yang memberat seperti yang dialami oleh Vera tadi. Akan tetapi, sebelum kita menjelajah negeri kita, baiklah kita lihat catatan lain dari majalah Bussiness Week terbitan 7 Okober 1961 yang berjudul Back From the Home to Bussiness.

Catatan ini dari negeri yang menganggap kebebasan bagi setiap warga Negara sebagai hal utama, yaitu Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, menurut catatan tersebut, sebenarnya wanita tak begitu bernafsu untuk memiliki lapangan kerja, tapi dari hari ke hari lapangan kerja bagi mereka semakin terbuka melebihi lapangan kerja bagi kaum pria. Di AS bukan kerja yang menjadi persoalan – tertutup atau tidaknya bagi wanita- melainkan alas an mengapa wanita bekerja. Mengerjakan wanita, kata seorang pengusaha, merupakan suatu kesukaran. Wanita tak dapat bergerak leluasa, sebab ia ekor dari ki-laki yang dicintainya. Bila ia bercerai, mungkin ia mendapat pasangan baru yang mesti diikutinya ke lain tempat bila suaminya dalam dinas (tentara atau pegawai negeri) dan tiba-tiba ia dipindahkan. Apalagi bila ia tak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Inilah yang mengganggu stabilitas personel perusahaan. Ditambah lagi wanita sukar dipercayakan memegang tugas pengawasan atau pimpinan karena wanita, apalagi pria, tidak suka diperintah oleh wanita lagi. Itulah sebabnya wanita jarang melanjutkan karirnya,dan akhirnya mereka kembali ke pangkuan suaminya. Meski demikian, bagi wanita senantiasa terbuka lapangan pekerjaan kesekretariatan. Dan bila mereka bekerja, bukanlah karena mereka ingin bekerja, melainkan karena alas an lain. Wanita lulusan akademi yang belum mendapat pasangan, ia bekerja. Wanita yang belum mendapat pasangan yang cocok, ia bekerja. Wanita yang suaminya sakit-sakitan, bekerja untuk biaya hidupnya. Wanita yang bersuami seorang peminym (alcoholic), bekerja unutk membiayai hidupnya sendiri. Demikian juga pada keluarga yang menginginkan mobil yang lebih baik atau ingin berlibur ke Eropa, si istri bekerja untuk menambah tabungan suaminya. Demikianlah alasan-alasan wanita bekerja yang pada tahun 1970 diramalkan akan naik 25% disbanding pria yang hanya 15%. Pada saat ini dari tiga orang wanita yang berkeluarga, seorang bekerja.

Alasan-alasan tersebut, selain tekanan ekonomi, ingin hidup mewah, serta moral yang buruk, adalah lukisan kehidupan di AS yang serba mekanis. Tidakah merupakan keasnehan bila pada saat-saat hendak melahirkan, wanita AS mengikuti les privat merawat bayi, atau bagi yang cukupan menyewa baby-sitter sejak awalnya. Wanita AS tak perlu repot-repot dengan resep-resep makanan, sebab ada makanan dalam kaeng yang tinggal memanaskan swerta restoran yang bisa menakar kalori-kalori yang diperlukan dan lain-lain. Jadi, mereka lebih leluasa untuk melupakan kewajiban-kewajiban yang pada mulanya dianggap utama dan terpenting, yang kemudian dapat dikatakan segala persoalannya sudah teratasi. Dan bila ada yang mau mencoba memikirkannya lagi, ia bisa didakwa sebagai seorang “kolot” yang harus belajar dari kenyataan.

Demikian lintasan kita dari dua Negara yang masing-masing mempunyai napas tersendiri dalam kehidupan masyarakat ataupun kenegaraannya. Kita barangkali bisa mengambil sari yang positif yang kemudian bisa kita rasa-rasakan dengan keadaan di negeri kita.

Sebagai pelopor emansipasi wanita di negeri kita disebut R.A. Kartini atau R. Dewi Sartika. Kita tidak tahu dengan pasti cita-cita semula Kartini ataupun Sartika yang sebenarnya (bila kita bandingkan dengan gerakan-gerakan wanita suffragetes di Inggris yang pada mulanya hanya menuntut hak pilih yang sama dengan pria). Apakah hanya soal lepas dari pemingitam atau hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, atau sampai berhak masuk Cowad dan Polwan? Kita bisa memastikan, apakah Kartini atau Sartika- bila masih bisa bicara- menyetujui gagasannya disejajarkan dengan gagasan Cowad dan Polwan. Bukan maksud kita hendak memancing pertentangan. Kita masing-masing mampunyai pendapat yang mungkin bereda atau mungkin sama. Akan tetapi, setelah membicarakan dan memperbandingkan hal-hal di atas, barangkali kita bisa membuat “persamaan hak yang ideal”, kemudian membuat neraca untuk membandingkan berhasilnya wanita memiliki hak yang sama dengan pria. Sebab kita tak terlepas dari pemikira bahwa di mana ada lautan, di sana ada darata, dan keduanya mempunyai tempat, hak, serta kewajiban yang sama. Tetapi, bila kita saling tukar atau saling berebut, keduanya boleh diinginkan, kita bisa membuat ramalan apa yang akan terjadi.

Pernah Ibu Sunaryo Mangunsarkoro menulis dalam Harian Abadi, taggal 20 Desember 1959 dalam rangka memperingati Hari Ibu sebagai beritu: seorang ibu adalh seorang wanita, tetapi seorang wanita belum tentu menjadi seorang ibu, dan hendaknya setiap wanita mempunyai harapan menjadi seorang ibu. Apakah perbedaaan seorang ibu dengan seorang wanita jika demikian? Mengapa hari ini tidak dijadikan hari wanita tetapi hari ibu, maka sebabnya adalah seorang ibu, selain ia seorang wanita, mempunyai tugas:
1. Sebagai istri dari seorang suami,
2. Sebagai pemimpin rumah tangga,
3. Sebagai pendidik dan pengasuh anak,
4. Sebagai anggota masyarakat umum.

Kesimpulannya, seorang ibu ialah sendi Negara yang menentukan kelangsungan bangsa dan kesejahteraan Negara. Itulah sebabnya Kongres tahun 1938 mengharapkan kaum wanita sadar sebagau “ibu bangsa”. Baik pria maupun wanita memerlukan seorang “ibu” yang biasanya seorang “wanita”. Di sini kita tiba pada hakikat emansipasi wanita di negeri kita, yang tidak bisa begitu saja disejajarkan dengan di negeri-negeri lain yang saat ini menghadapi ekses-eksesnya. Meskipun demikiannya tak ada salahnya kita mengkaji sejak dini sebelum langkah-langkah kita tersesatkan oleh antusiasme emansipasi. Hak dan kewajiban yang sama bisa mendapat tanggapan sala bila tidak dicatat lebih dahulu bahwa hak dan kewajiban yang sama pada tempat-tempat tertentu masing-masing memiliki derajat yang sama. Derajat yang sama tidak berarti memperkenankan memiliki lapangan dan daerah serta situasi yang sama. Meninggalkan tugas yang menjadi hak dan kewajiban wanita dapat menimbulkan peristiwa yang tidak diharapkan seperti telah dikatakan: ada daratan ada lautan, keduanya mempunyai tempat, hak, dan kewajban yang sama pentingnya.

Demikianlah catatan saya ini saya sampaikan kepada pembaca khusunya serta masyarakat umumnya. Saya tidak tahu apakah catatan ini bernada sumbang atau “kolot”.

KH. E. ABDURRAHMAN

Minggu, 17 November 2013

Blog Ini

Bismillahirrahmanirrahiem..

Dibuatnya blog ini dilatarbelakangi oleh rasa prihatin yang dirasakan oleh saya, terhadap keadaan perempuan jaman sekarang yang semakin "edan". Bahkan seakan-akan jembatan pembeda antara laki-laki dan perempuan tidak lagi ada. Semuanya sudah serba tidak terbatas.

Sementara itu, sebenarnya hakikat diciptakannya perempuan sangatlah berbeda dengan kenyataan yang ada saat ini. Dimulai dari profesinya, lapangan pekerjaannya, sifatnya, sikapnya, penampilannya, dan lain hal yang banyak sekali jika saya sebutkan satu persatu.

Bukan bermaksud untuk mendiskriminasikan perempuan. akan tetapi untuk mengembalikan seperti apa sih perempuan yang seharusnya?

Maka di blog ini saya akan berbagi ilmu yang saya dapatkan tentang wanita, khususnya dari perspektif agama yang saya anut, Islam.

Demikian prolog dari blog ini. Semoga ke depannya dengan blog ini dapat memberi kemudahan untuk para perempuan untuk dapat menemukan hakikat dari makna penciptaannya di muka bumi ini.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

rahman

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop