Bila seorang suami sering memperkatakan wanita lain, betapa
cemburunya sang istri terhadapnya. Hal itu dapat dimaklumi dan dirasakan oleh
setiap orang. Apalagi yang dibicarakannya itu justru kebaikannya semata-mata.
Khadijah istri Rasulullah saw., sudah wafat jauh sebelum
hijrah. Namun ‘Aisyah sering menaruh cemburu terhadap Khadijah. Betapa tidak,
sebab Rasulullah sering menyebut-nyebut Khadijah dan tidak pernah lupa kepada
istrinya yang terdahulu itu. Dia senantiasa mengenang budi baik serta
jasa-jasanya.
Berkenan dengan itu ‘Aisyah berkata:
مَا
غِرْتُ مِنْ امْرَأَةٍ, مَا غِرْتُ مِنْ خَدِيْجَةَ.
“Aku tidak
pernah menaruh cemburu terhadap seorang perempuan sebagaimana aku cemburu
terhadap Khadijah”
“Aisyah cemburu terhadap Khadijah karena
Rasulullah sering menyebut-nyebut namanya. Teman-teman dan kenalan Khadijah
mendapat kehormatan dari Rasulullah, malah dia sering berkirim hadiah kepada
mereka yang masih hidup saat itu.
‘Aisyah memaklumi perbuatan Rasulullah itu
karena dia tidak dapat melupakan segala budi bai dan jasa Khadijah. Rasulullah
bersabda:
اَمَنَتْ بِى اِذْ كَذَبَنِىَ النَّاسُ, وَ وَاسَتْنِىْ
بِمَالَهِهَا اِذْ حَرَمَنِىَ النَّاسُ.
“Khadijah
beriman kepadaku pada saat orang mendustakan daku. Dan Khadijah membantuku
dengan harta kekayaannya pada saat orang menghentikan pertolongan buatku.”
Jasa Khadijah sangat lekat pada kenangan
Rasulullah, sebab jasanya itu telah menjadi modal utama bagi pelaksanaan
jihadnya memenuhi risalah Allah swt.
Istri yang dapat member ketentramana hati
kepada suaminya untuk bekerja dan berjuang adalah istri yang utama. Banyak
perjuangan yang gagal disebabkan oleh sikap dan tingkah laku buruk sang istri.
Istri sering menjadi penghalang besar bagi kelanjutan suatu perjuangan.
A good wife makes a good husband. Seoran gistri yang baik membuat
suami yang baik!
Demikianlah halnya Khadijah sebagai istri
Rasulullah. Masih terngiang pada endengaran Rasulullah ketiak dia mendapat
risalah Allah swt., Khadijah berkata kepadanya:
فَوَ الَّذِىْ نَفْسُ خَدِيْجَةَ بِيَدِهِ, اِنِّىْ
لَاَرْجُوْا اَنْ تَكُوْنَ نَبِيَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ.
“Demi Allah
yang menguasai jiwa raga Khadijah, sesungguhnya aku berharap sekali engkau
menjadi Nabi bagi umat ini.”
Ucapan Khadijah itu sangat membesarkan hati dan
meneguhkan jiwa Muhammad, bahwa dia selayaknya dan sepatutnya terpilih menjadi
nabi mengemban risalah ilahi. Ucapan itu timbul dari keyakinan dan kepercayaan
Khadijah akan diri Muhammad dalam mengemban risalah suci!
Selanjutnya Khadijah berkata pula:
وَ اللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ اَبَدًا, اِنَّكَ
لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَ تَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَ تَحْمِلُ الْكَلَّ, وَ تُقْرِى
الضَّيْفَ وَ تُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ.
Demi Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan
engkau. Pasti ia akan membantumu, sebab engkau adalah oran gberbudi dan suka
bersilaturahmi. Engkau tidak akan memutuskan hubungan (dengan siapa pun).
Engkau suka membantu mereka yang tak mampu, dan senantiasa menghormati tamu
serta membela yang haq bila ia terancam bahaya.
Kata-kata Khadijah it menguatkan jiwa Muhammad
dalam berjihad. Khadijah adalah istri piawai, berbudi, berani, serta tahu cara
membesarkan hati suami.
02.18
Unknown

