Iklan

Jumat, 06 Desember 2013

HANCUR BADAN DIKANDUNG TANAH, BUDI BAIK TERKENANG JUGA

Bila seorang suami sering memperkatakan wanita lain, betapa cemburunya sang istri terhadapnya. Hal itu dapat dimaklumi dan dirasakan oleh setiap orang. Apalagi yang dibicarakannya itu justru kebaikannya semata-mata.
Khadijah istri Rasulullah saw., sudah wafat jauh sebelum hijrah. Namun ‘Aisyah sering menaruh cemburu terhadap Khadijah. Betapa tidak, sebab Rasulullah sering menyebut-nyebut Khadijah dan tidak pernah lupa kepada istrinya yang terdahulu itu. Dia senantiasa mengenang budi baik serta jasa-jasanya.
Berkenan dengan itu ‘Aisyah berkata:
مَا غِرْتُ مِنْ امْرَأَةٍ, مَا غِرْتُ مِنْ خَدِيْجَةَ.
“Aku tidak pernah menaruh cemburu terhadap seorang perempuan sebagaimana aku cemburu terhadap Khadijah”
“Aisyah cemburu terhadap Khadijah karena Rasulullah sering menyebut-nyebut namanya. Teman-teman dan kenalan Khadijah mendapat kehormatan dari Rasulullah, malah dia sering berkirim hadiah kepada mereka yang masih hidup saat itu.
‘Aisyah memaklumi perbuatan Rasulullah itu karena dia tidak dapat melupakan segala budi bai dan jasa Khadijah. Rasulullah bersabda:
اَمَنَتْ بِى اِذْ كَذَبَنِىَ النَّاسُ, وَ وَاسَتْنِىْ بِمَالَهِهَا اِذْ حَرَمَنِىَ النَّاسُ.
“Khadijah beriman kepadaku pada saat orang mendustakan daku. Dan Khadijah membantuku dengan harta kekayaannya pada saat orang menghentikan pertolongan buatku.”
Jasa Khadijah sangat lekat pada kenangan Rasulullah, sebab jasanya itu telah menjadi modal utama bagi pelaksanaan jihadnya memenuhi risalah Allah swt.
Istri yang dapat member ketentramana hati kepada suaminya untuk bekerja dan berjuang adalah istri yang utama. Banyak perjuangan yang gagal disebabkan oleh sikap dan tingkah laku buruk sang istri. Istri sering menjadi penghalang besar bagi kelanjutan suatu perjuangan.
A good wife makes a good husband. Seoran gistri yang baik membuat suami yang baik!
Demikianlah halnya Khadijah sebagai istri Rasulullah. Masih terngiang pada endengaran Rasulullah ketiak dia mendapat risalah Allah swt., Khadijah berkata kepadanya:
فَوَ الَّذِىْ نَفْسُ خَدِيْجَةَ بِيَدِهِ, اِنِّىْ لَاَرْجُوْا اَنْ تَكُوْنَ نَبِيَّ هَذِهِ الْاُمَّةِ.
“Demi Allah yang menguasai jiwa raga Khadijah, sesungguhnya aku berharap sekali engkau menjadi Nabi bagi umat ini.”
Ucapan Khadijah itu sangat membesarkan hati dan meneguhkan jiwa Muhammad, bahwa dia selayaknya dan sepatutnya terpilih menjadi nabi mengemban risalah ilahi. Ucapan itu timbul dari keyakinan dan kepercayaan Khadijah akan diri Muhammad dalam mengemban risalah suci!
Selanjutnya Khadijah berkata pula:
وَ اللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ اَبَدًا, اِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَ تَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَ تَحْمِلُ الْكَلَّ, وَ تُقْرِى الضَّيْفَ وَ تُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ.
Demi Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan engkau. Pasti ia akan membantumu, sebab engkau adalah oran gberbudi dan suka bersilaturahmi. Engkau tidak akan memutuskan hubungan (dengan siapa pun). Engkau suka membantu mereka yang tak mampu, dan senantiasa menghormati tamu serta membela yang haq bila ia terancam bahaya.
Kata-kata Khadijah it menguatkan jiwa Muhammad dalam berjihad. Khadijah adalah istri piawai, berbudi, berani, serta tahu cara membesarkan hati suami.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop